Gedung Gereja GPIB Jemaat GALILEA Palabuhanratu
Pendeta dan Jemaat
Gabon Manis
Gabon Pedas
 

Jam Ibadah Minggu Jemaat pada pukul 10:00 WIB



     Gereja merupakan kesatuan yang sesungguhnya sejak semula sudah ada dalam diri Yesus Kristus dan bukan kesatuan yang dibentuk atau terjadi oleh kehendak banyak orang. Ini terjadi hanya ada satu Gereja yang Kudus dan Am.


     Gereja membantu kita menjadi orang Kristen yang sejati. Karena menjadi anggota gereja, kita dapat berjumpa dengan kawan seiman, dan dapat mewujudkan kasih diantara satu dengan yang lain, sehingga semua orang tahu bahwa kita adalah murid-murid Tuhan (Yohanes 13:35). Gereja juga menolong kita dari sikap hidup mementingkan diri sendiri. Gereja ibarat sekolah dimana kita belajar hidup bersama sebagai anggota keluarga Allah dari tiap suku, status dan latar belakang dan perbedaan-perbedaan yang kita miliki.


     Kita lalu saling memperhatikan dan ikut merasakan apa yang dirasakan sesama kawan seiman (1Korintus 12:26). Oleh karena itu Gereja itu bukan gedung, dan bukan suatu bangunan yang didirikan manusia. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Kristus. Jadi Gereja adalah persekutuan manusia percaya kepada Tuhan Yesus, di mana Yesus Kristus adalah dasar dan Kepala Gereja itu.

 

 

PEMAHAMAN IMAN GPIB
tentang
NEGARA dan BANGSA

 
 

KAMI MENGAKU,

  1. Bahwa Allah, sebagai Sumber Kuasa, memberikan kuasa kepada pemerintah bangsa-bangsa guna mendatangkan keadilan dan kesejahteraan, memelihara ketertiban serta mencegah dan meniadakan kekacauan dan kejahatan. Dengan demikian sebagai hamba Allah, setiap pemerintah wajib mempertanggung jawabkan kuasa tersebut kepada Allah.

  2.  
  3. Bahwa Roh Kudus yang adalah Roh keberanian akan menolong orang percaya untuk lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia, seperti yang telah disaksikan oleh para Rasul. Oleh karena itu Gereja terpanggil memperdengarkan suara kenabian terhadap masalah negara, bangsa, dan masyarakat.

  4.  
  5. Bahwa berdasarkan tuntunan Roh Kudus, warga jemaat yang adalah sekaligus warga negara wajib menaati undang-undang dan penjabarannya yang telah menjadi ketetapan bersama, namun ia wajib memberi saran-saran perbaikan secara kritis dan konstruktif lewat saluran saluran pengawasan demi keadilan dan kesejahteraan bangsa.

  6.  
  7. Bahwa berdasarkan tuntunan Roh Kudus, warga jemaat yang adalah sekaligus warga negara, di dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat, perlu membangun rasa persatuan dan kesatuan yang tidak merusak kebhinekaan dan kesetaraan dan yang telah menjadi bagian dari masyarakat warga/sipil, dimana hak-hak asasi manusia dijunjung tinggi.


 

NASIONALISME

 
 

     Indonesia, negara dan bangsa yang kita cintai bersama ini, tahun ini – Agustus 2017 – genap berusia 72 tahun. Ibarat manusia, sebuah negara yang sudah berusia lebih dari setengah abad, secara umum berarti cukup mapan dan matang. Tetapi dalam konteks bangsa kita – Indonesia – entahlah. Jawabannya saya kembalikan pada Anda. Silahkan berkomentar, apa saja. Sebab bukan hanya politisi atau pengamat yang boleh mengomentari negara dan bangsa ini. Kita sebagai warga masyarakat awam juga pasti kepingin urunpendapat – menjadi narasumber – istilah kerennya. Masa bodoh, benar atau salah, atau bahkan bodoh beneran, yang penting berpendapat! Apalagi kalau diliput media, khususnya media yang suka geger-gegeran.

 

     Saking gemarnya masyarakat kita mengumbar komentar, tidak terlalu mengherankan apabila muncul multi-pendapat yang tidak pernah sepakat. Bagaimana men-definisi-kan nasionalisme, adalah salah satu contoh betapa sulitnya mencapai kesepakatan itu. Apa sih nasionalisme itu? Beragam pendapat atau komentar pasti hadir atas pertanyaan ini. Selain itu, kita pasti sering mendengar tudingan-tudingan seperti, “Si Anu tidak nasionalis, lihat saja dia menanam modalnya di luar negeri.” Sementara, orang asing yang berlomba-lomba menanam modalnya di sini, tidak pernah kita persoalkan apakah dia a-nasionalis atau bukan terhadap negerinya.

 

     Sebaliknya ada yang mengatakan kalau jiwa nasionalisme si Pulan itu tinggi. Indikasinya apa? Si Pulan itu tidak pernah ke luar negeri. Bukankah ini bisa merupakan satu pertanda awal kalau dia sangat mencintai negeri ini? Tambahan lagi, dia selalu memakai produk dalam negeri. Tetapi tetangganya bercerita bahwa si Pulan itu tidak pernah bergaul dengan tetangganya yang jelas-jelas asli merah-putih. Bahkan si Pulan tadi dikenal pula sebagai pegawai negeri yang 'rajin' korupsi. Artinya, si Pulan ini sangat berbeda dibandingkan dengan si Oemar Bakrie, seorang guru jujur, berbakti, dan yang bersih dari hama korupsi. Hidup miskin tapi puas diri, dan selalu saja menjadi idola orang sekampung. Maklum dia tipe orang yang ringan tangan untuk menolong bukan menodong.

 

     Nasionalisme, oh nasionalisme..., kau memang nyanyian dengan banyak versi, yang tidak memiliki syair dan nada abadi, karena tergantung pada siapa yang menyanyikanmu.

 

     Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 'nasionalisme' berarti: 1) Paham/ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; 2) Sebuah kesadaran sebagai anggota yang terikat dari satu bangsa.

 

     Nah, berangkat dari KBBI ini Anda dipersilahkan untuk menilai apakah si Anu atau si Pulan yang nasionalis. Saya sendiri tidak akan mau memberi komentar selain, “Terserah penilaian Anda sendiri, siapa di antara kedua tokoh kita di atas – si Anu atau si Pulan-kah – yang layak disebut sebagai nasionalis?” Sebab bagi saya, nasionalisme adalah sebuah tindakan nyata bukan sekadar kata yang dapat diukur dari:

  1. Kebanggaannya sebagai bangsa Indonesia, entah dia sering ke luar negeri atau tidak. Karena sering ke luar negeri, bisa juga berarti dia rajin mempromosikan keindahan Tanah Air tercinta, dan gemulainya nyiur yang melambai-lambai; atau karena dia pintar dan diakui oleh luar negeri sehingga diundang untuk berbicara.
  2. Keterlibatannya secara aktual dalam hidup bermasyarakat, dengan giat membangun mutu kehidupan yang beradab; bukannya korupsi bahkan tega menyunat dana bantuan untuk saudara sebangsa yang sedang kesulitan.
  3. Ketegasan sikap yang konsisten dengan tidak menjadi primordial, sektarian, tetapi berperikemanusiaan dan pro-kebersamaan, menghargai perbedaan dengan semangat toleransi yang tinggi.
  4. Keberanian mengoreksi korupsi, mengenyahkan bungkus dan mendemonstrasikan isi secara transparan. Tidak memolitisi situasi untuk kepentingan diri atau kelompoknya semata.

 

     Singkat kata, seorang nasionalis akan menjaga cita-cita bangsa dan kemurnian kesatuan. Berada di dalam atau di luar negeri, dia memakai produk lokal atau asing, sah-sah saja, tetapi di benaknya terpateri lagu: Padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami berbakti, padamu negeri kami mengabdi, bagimu negeri jiwa raga kami. (Catatan penulis: 'kami' dibaca 'aku').

 

     Jika segenap anak bangsa ini memiliki nasionalisme yang tinggi, sudah pasti wajah Ibu Pertiwi semakin berseri. Tetapi kini, di usianya yang ke-72, nasionalisme anak-anak negeri cenderung semakin keropos dan minus besar. Ibu Pertiwi resah, putus asa, sebab anak-anaknya saling membenci, saling menguasai tanpa pernah berhenti barang sekejap.

 

     Mari kita hibur Ibu Pertiwi dengan kasih Ilahi agar dia tidak lagi bersedih. Seorang Kristen sudah seharusnya nasionalis, sekalipun belum tentu sebaliknya. Merdeka!

 

Pdt. Bigman Sirait

 
 

SIARAN RADIO GPIB


 
 

Salam Sejahtera.

 

GPIB telah melayani lewat Siaran Radio GPIB yang dinamakan "Arise 'n Shine" pada Pkl. 14.00 - 15.00 WIB Minggu II & IV setiap bulannya di RADIO RPK (Radio Pelita Kasih) Jakarta. JaBoDeTaBek : melalui kanal Radio FM 96.3, di seluruh Indonesia & dunia secara real-time melalui : Live audio-steaming di http://www.radiopelitakasih.com. Aplikasi "Sahabat RPK" di Android / Apple device / BB. Untuk menghubungi saat siaran berlangsung melalui No. Telp (+62)(021)8000444 atau SMS/WA : (+62)08151800444.

 

MISI GPIB :

  • Menjadi Gereja yang terus menerus diperbaharui (ecclesia reformata semper reformada) dengan bertolak dari Firman Allah yang terwujud dalam perilaku kehidupan warga gereja, baik dalam persekutuan, maupun dalam hidup bermasyarakat.

  • Menjadi Gereja yang hadir sebagai contoh kehidupan, yang terwujud melalui inisiatif dan partisipasi dalam kesetiakawanan sosial serta kerukunan dalam masyarakat dengan berbasis pada perilaku kehidupan keluarga yang kuat dan sejahtera.

  • Menjadi Gereja yang membangun keutuhan ciptaan yang terwujud melalui perhatian terhadap lingkungan hidup, semangat keesaan dan semangat persatuan dan kesatuan warga Gereja sebagai warga masyarakat.

SEMBOYAN GPIB :

"Dan orang akan datang dari timur dan barat dan dari utara dan selatan dan mereka akan duduk, makan di dalam Kerajaan Allah" (Lukas 13 : 29)


VISI GPIB :

GPIB menjadi Gereja yang mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan-Nya.


TUGAS GPIB :

"Memantapkan spiritualitas umat untuk membangun dan mengembangkan GPIB sebagai Gereja Misioner yang membawa damai sejahtera Yesus Kristus di tengah-tengah masyarakat dan dunia"


Flag Counter

Kotak Pemberitahuan