Peneguhan Majelis Jemaat 2017-2022
Gedung Gereja GPIB Jemaat GALILEA Palabuhanratu
Pendeta dan Jemaat
Gabon Manis
Gabon Pedas
 

Jam Ibadah Minggu Jemaat pada pukul 10:00 WIB



     Gereja merupakan kesatuan yang sesungguhnya sejak semula sudah ada dalam diri Yesus Kristus dan bukan kesatuan yang dibentuk atau terjadi oleh kehendak banyak orang. Ini terjadi hanya ada satu Gereja yang Kudus dan Am.


     Gereja membantu kita menjadi orang Kristen yang sejati. Karena menjadi anggota gereja, kita dapat berjumpa dengan kawan seiman, dan dapat mewujudkan kasih diantara satu dengan yang lain, sehingga semua orang tahu bahwa kita adalah murid-murid Tuhan (Yohanes 13:35). Gereja juga menolong kita dari sikap hidup mementingkan diri sendiri. Gereja ibarat sekolah dimana kita belajar hidup bersama sebagai anggota keluarga Allah dari tiap suku, status dan latar belakang dan perbedaan-perbedaan yang kita miliki.


     Kita lalu saling memperhatikan dan ikut merasakan apa yang dirasakan sesama kawan seiman (1Korintus 12:26). Oleh karena itu Gereja itu bukan gedung, dan bukan suatu bangunan yang didirikan manusia. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Kristus. Jadi Gereja adalah persekutuan manusia percaya kepada Tuhan Yesus, di mana Yesus Kristus adalah dasar dan Kepala Gereja itu.

 

 

Pemberi Harapan Pasti
(Markus 16:1-8)

 
 

     Lahir, hidup, berkarya lalu kemudian mati, itulah proses kehidupan yang dialami oleh manusia. Awal kehidupan adalah kelahiran, dan akhir kehidupan adalah kematian. Belum pernah kita mendengar atau melihat ada manusia yang bangkit dari kematian. Sementara dihari Paskah ini Firman Tuhan berkata: Kristus telah bangkit. Peristiwa kebangkitan Kristus yang kita rayakan hari ini menandakan sebuah peristiwa yang besar, karena belum pernah ada orang yang bangkit dari kematian. Memperingati hari kelahiran dan memperingati hari kematian itu sudah biasa, namun belum pernah ada manusia yang memperingati atau merayakan kebangkitan. Peristiwa kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa kuasa maut telah dikalahkan oleh-Nya. Oleh karena itu kita tidak perlu lagi berlarut dalam dukacita dan tidak berpengharapan, karena suasana dukacita dan tidak berpengharapan itu telah diubah menjadi sukacita dan penuh dengan pengharapan. Hosiana (Tolonglah kami) berubah menjadi Haleluya (Puji Tuhan). Pesta kemenangan kita rayakan dengan penuh syukur, sebab pemberi harapan pasti itu telah terbit.

 

     Jika pagi (subuh) ini kita mengawali hari dengan bahagia karena ini adalah hari Paskah, namun tidak demikian dengan Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome. Injil Markus menggambarkan bahwa subuh itu mereka sedang tidak bahagia dan tidak berpengharapan. Ketidakbahagiaan mereka, putus asa mereka disebabkan oleh rasa duka yang masih menghantui mereka. Peristiwa penyaliban Yesus masih membekas dalam ingatan mereka, karena mereka menjadi saksi saat Yesus menyerahkan nyawa-Nya (Markus 15: 40). Mereka juga menjadi orang yang melihat dengan mata mereka sendiri saat tubuh Yesus dikuburkan (Markus 15: 47). Sosok Yesus sebagai guru yang selama ini mereka harapkan kini tiada lagi. Yang tersisa hanya rasa duka, khawatir dan putus asa karena ancaman serta ketidakpastian yang akan mereka hadapi ke depan.

 

     Di tengah rasa duka dan putus asa (tidak berpengharapan) yang mereka alami, Allah terus berkarya dalam hidup mereka. Peristiwa yang terjadi saat mereka pergi ke kubur Yesus menjadi bukti bagaimana Allah berkarya mendatangkan pengharapan pasti bagi mereka. Oleh karena itu di tengah suasana sukacita Paskah hari ini, kita diajak melihat peristiwa yang terjadi di seputar kebangkitan Kristus. Bagaimana Allah berkarya melepaskan para murid dari kecemasan dan keputusasaan karena Dia adalah pemberi harapan yang pasti.

 

Selamat Paskah, Tuhan memberkati.

 

Pdt. Ratna Indah Widhiastuty

 
 

PESAN PASKAH 2018
MAJELIS SINODE GPIB

 
 

     Hidup di Era Globalisasi ciri utamanya adalah persaingan. Semakin hari persaingan semakin ketat, seru dan semakin keras. Siapa yang mampu bersaing akan bertahan dan yang tidak mampu bersaing tidak akan bertahan. Dengan demikian hukum rimba yang berlaku, sehingga dengan berbagai cara para pesaing harus dimatikan. “Budaya kematian” yang terus berkembang ini harus dihentikan.

 

     Dengan peristiwa Paskah yang kembali kita peringati mau mengingatkan kepada kita bahwa kematian Yesus bukanlah kematian Allah (the death of God), kematian Yesus adalah kematian di dalam Allah (the death in God), artinya Allah dalam Yesus merengkuh, merangkul dan mengambil kematian kita ke dalam diri-Nya, supaya kita bisa hidup yang sesungguhnya. Yaitu hidup yang sejati, yang kekal, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

 

     Hidup yang seperti itu dianugerahkan kepada kita supaya kita hidup untuk menghidupkan dengan cara menghentikan “budaya kematian” atau mematikan kematian itu sendiri. Inilah arti Paskah yang sesungguhnya, yaitu melalui Paskah (Kebangkitan Yesus) kematian telah dimatikan. Kematian akhirnya mati karena dikalahkan oleh kehidupan yang ditandai dengan Kebangkitan Yesus dari kematian-Nya.

 

     Dengan tema tahun pelayanan 2018-2019: MEMBANGUN SPIRITUALITAS DAMAI YANG MENCIPTAKAN PENDAMAI” (YAKOBUS 3 : 13 – 18) kiranya warga jemaat GPIB yang telah dianugerahkan kehidupan sebagai anak-anak Allah dapat membawa damai khususnya dalam konteks pesta demokrasi 2018, dimana suhu politik meningkat, sehingga lebih mudah menimbulkan ketegangan, diantara sesama anak bangsa. Dalam semangat Paskah marilah dengan spiritualitas damai kita hadirkan damai Allah yang membawa keteduhan, yang mensejahterakan, agar pesta demokrasi 2018 dapat berlangsung dengan baik dan sukses untuk kemajuan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang kita cintai

 

Selamat Paskah 2018

 

Soli Deo Gloria

 

Salam Kasih,
MAJELIS SINODE GPIB
Ketua Umum : Pdt. Drs. Paulus Kariso Rumambi, M.Si
Ketua I : Pdt. Marthen Leiwakabessy, S.Th.
Ketua II : Pdt. Drs. Melkisedek Puimera, M.Si
Ketua III : Pdt. Maureen Suzanne Rumeser-Thomas, M.Th.
Ketua IV : Pen. Drs. Adrie Petrus Hendrik Nelwan
Ketua V : Pen. Mangara Saib Oloan Pangaribuan, SE.
Sekretaris Umum : Pdt. Jacoba Marlene Joseph, M.Th.
Sekretaris I : Pdt. Elly Dominggas Pitoy-de Bell, S.Th.
Sekretaris II : Pen. Sheila Aryani Salomo, SH.
Bendahara : Pen. Ronny Hendrik Wayong, SE.
Bendahara I : Pen. Eddy Maulana Soei Ndoen, SE.

 
 

PESAN PASKAH PGI 2018
"Kuasa KebangkitanNya Menjadikan Kita Hamba Kebenaran"
(Bdk Roma 6:18)

 
 

     Umat Kristiani terkasih di manapun Saudara berada. Salam Sejahtera dalam Yesus Kristus,

 

     Saat ini Gereja-Gereja di Indonesia dan di seluruh dunia kembali memperingati dan merayakan Kebangkitan Tuhan Yesus. Kebangkitan-Nya mengalahkan maut memberi harapan baru bagi kita bahwa dalam Kristus ada kehidupan baru yang mampu menerobos kematian dan kesia-siaan. Melalui karya Kristus di kayu salib, kita meyakini bahwa "kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah bangkit dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." (Roma 6:4). Semua ini kita terima dalam rasa syukur atas anugerah Allah yang luar biasa. Iman kepada Kristus yang bangkit menjadi harapan yang terus-menerus memberi semangat bagi pengikut Kristus, secara pribadi maupun sebagai gereja, untuk senantiasa membaharui diri dari kerapuhan dan keberdosaan manusiawi. Dengan pembaharuan diri ini kita bangkit memberitakan kasih karunia Allah, mewujudkan kebenaranNya di tengah-tengah realitas kehidupan yang sering diwarnai oleh dusta, penyebaran berita bohong atau hoaks, tipu muslihat bahkan kelaliman.

 

     Melalui Kebangkitan-Nya, gereja-gereja dan setiap orang Kristen diajak untuk berani menentukan pilihan dari sekian banyak pilihan yang kita hadapi setiap saat: apakah kita memilih untuk menjadi "hamba dosa" atau menjadi Hamba kebenaran." Rasul Paulus mengingatkan kita, khususnya dalam Roma 6, bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Pilihan menjadi "hamba dosa" akan membawa kita kepada maut atau kebinasaan. Pilihan untuk taat kepada Allah dan menjadi "hamba kebenaran" akan membawa kita, maupun masyarakat di mana kita hadir, kepada kemerdekaan dari dosa dan menikmati damai sejahteraNya.

 

     Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

 

     Apa arti pesan Paskah untuk "menjadi hamba kebenaran" bagi gaya hidup kita sebagai pribadi, maupun bagi kesaksian gereja-gereja di Indonesia yang hadir dan melayani di tengah masyarakat majemuk Indonesia yang sedang mengalami perubahan yang cepat? Banyak harapan yang menggembirakan di tengah perubahan tersebut. Namun tidak sedikit juga keprihatinan yang kita saksikan. Kita diperhadapkan dengan pelbagai pergumulan yang menggerus masa depan anak bangsa, antara lain: kemiskinan yang mengakibatkan banyaknya korban gizi buruk di pelosok negeri; perdagangan manusia yang semakin marak serta tindak kekerasan yang dialami pekerja migran yang mengakibatkan semakin banyak korban yang pulang ke rumahnya dalam peti jenazah; bencana alam dan banjir yang terjadi dimana-mana. Kita juga terns diperhadapkan dengan kecenderungan manusia yang semakin mengejar kepentingan diri dan kelompoknya dengan mengabaikan kepentingan bersama yang dapat merusak semangat persaudaraan, kesejahteraan dan keutuhan bangsa. Nilai-nilai kasih, kejujuran dan kebenaran semakin diselewengkan demi meraih kedudukan, kuasa dan kelimpahan materi. Selain itu, kita sebagai anak bangsa sedang berada dalam eforia pesta demokrasi 2018. Situasi ini kembali lagi membawa warga kepada pilihan: menjadi "hamba dosa" yang berorientasi pada ketidakbenaran dalam rupa politik uang dan politik identitas, atau menjadi "hamba kebenaran" yang mendorong warga menjadi pemilih cerdas dengan memilih pemimpin bangsa pada semua lini yang takut akan Tuhan dan mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan segenap anak bangsa.

 

     Dalam suasana syukur dan sukacita Paskah, perkenankanlah kami mengajak kita semua untuk dengan bijak mempertimbangkan pilihan-pilihan berikut:

  1. Berani memilih kebenaran di tengah banyaknya orang yang bersikap tidak jujur dan membengkokkan kebenaran, sekalipun harus "memikul salib" dan menghadapi berbagai resiko. Hal ini sejatinya kita wujudkan secara nyata dalam tindakan konkret dengan menghadirkan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan di tengah kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa Indonesia;
  2. Berusaha mengendalikan diri agar tidak mudah terprovokasi untuk membenci kelompok lain yang berbeda suku. budaya, ideologi dan agama; serta berupaya menghindari tindakan-tindakan provokatif, termasuk politisasi agama, yang dapat memecahbelah keutuhan NKRI;
  3. Menumbuhkembangkan budaya damai mulai dan kcluarga. menjauhi kebohongan apalagi menyebar luaskan berita-berita bohong atau hoaks demi kepentingan pribadi atau kelompok, serta mendampingi generasi muda dalam pertumbuhan karakter dan spiritualitas yang mencerminkan kebenaran Allah;
  4. Memberikan perhatian khusus kepada saudara-saudara yang mengalami ketidakadilan dan kekerasan akibat tindakan dan keserakahan segelintir orang, melalui pendampingan pastoral maupun tindakan advokasi;
  5. Bersama semua anak bangsa, menciptakan masyarakat yang demokratis melalui pendidikan politik bagi warga gereja agar dalam Pilkada 2018, Pileg dan Pilpres 2019 mendatang setiap warga gereja dan warga masyarakat dapat menjadi pemilih yang cerdas demi kepentingan bangsa.
  6.  

         Selamat PASKAH! Selamat menghidupi dan mewujudnyatakan kebenaranNya.

     

    Jakarta, Maret 2018
    Atas nama Majelis Pekerja Harian PGI

     

    Ketua Umum : Pdt. Henriette Hutabarat Lebang
    Sekretaris Umum : Pdt. Gomar Gultom

     
     

    SIARAN RADIO GPIB


     
     

    Salam Sejahtera.

     

    GPIB telah melayani lewat Siaran Radio GPIB yang dinamakan "Arise 'n Shine" pada Pkl. 14.00 - 15.00 WIB Minggu II & IV setiap bulannya di RADIO RPK (Radio Pelita Kasih) Jakarta. JaBoDeTaBek : melalui kanal Radio FM 96.3, di seluruh Indonesia & dunia secara real-time melalui : Live audio-steaming di http://www.radiopelitakasih.com. Aplikasi "Sahabat RPK" di Android / Apple device / BB. Untuk menghubungi saat siaran berlangsung melalui No. Telp (+62)(021)8000444 atau SMS/WA : (+62)08151800444.

     

MISI GPIB :

  • Menjadi Gereja yang terus menerus diperbaharui (ecclesia reformata semper reformada) dengan bertolak dari Firman Allah yang terwujud dalam perilaku kehidupan warga gereja, baik dalam persekutuan, maupun dalam hidup bermasyarakat.

  • Menjadi Gereja yang hadir sebagai contoh kehidupan, yang terwujud melalui inisiatif dan partisipasi dalam kesetiakawanan sosial serta kerukunan dalam masyarakat dengan berbasis pada perilaku kehidupan keluarga yang kuat dan sejahtera.

  • Menjadi Gereja yang membangun keutuhan ciptaan yang terwujud melalui perhatian terhadap lingkungan hidup, semangat keesaan dan semangat persatuan dan kesatuan warga Gereja sebagai warga masyarakat.

SEMBOYAN GPIB :

"Dan orang akan datang dari timur dan barat dan dari utara dan selatan dan mereka akan duduk, makan di dalam Kerajaan Allah" (Lukas 13 : 29)


VISI GPIB :

GPIB menjadi Gereja yang mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan-Nya.


TUGAS GPIB :

"Memantapkan spiritualitas umat untuk membangun dan mengembangkan GPIB sebagai Gereja Misioner yang membawa damai sejahtera Yesus Kristus di tengah-tengah masyarakat dan dunia"


Flag Counter

Kotak Pemberitahuan


Pembangunan Kantor Gereja
dan
Ruang Serba Guna


Bagi yang tergerak hatinya untuk menyumbang bagi Pembangunan Kantor Gereja dan Ruang Serba Guna dapat menyalurkannya ke No. rek. 0543-01-002986-53-7 a/n. PANITIA PEMBANGUNAN GPIB GALILEA -- Bank Rakyat Indonesia (BRI) KCP Pelabuhanratu.